Ads 468x60px

Wednesday, May 10, 2017

Workshop HRM Series: ABK, Evjab & Remunerasi


Mau menambah wawasan dan pengalaman di akhir pekan..!!

MARI IKUTI... HR MANAGEMENT WORKSHOP SERIES BY ACTUAL CONSULTING

Hari Minggu, 14 Mei 2017 :  Modul 3 - Analisa Beban Kerja (Workload Analysis)
Hari Minggu, 21 Mei 2017 :  Modul 4 - Evaluasi Jabatan & Sistem Remunerasi

Untuk para praktisi HRD Senior dan Junior, Calon Praktisi, Mahasiswa/i dan Umum, 
Yuk bergabung bersama kami di Wokshop Analisa Beban Kerja dan Sistem Remunerasi yang diselenggarakan pada tanggal 14 dan 21 Mei 2017 mulai pukul 09.00 - 16.00 WIB.
 

Pelaksanaan Workshop di Kantor ACTUAL CONSULTING (see on Google maps).

Untuk pendaftaran dan informasi dapat menghubungi:
Contact Person yang tertera atau silahkan meninggalkan pesan melalui WA/SMS.

Friday, February 12, 2016

ACTUAL SUPPLY

ACTUAL SUPPLY - Divisi baru Actual Consulting yang memberikan layanan Databank, Sourcing, Outsourcing, dan HR Tasforce. Kirim CV terbaru Anda atau ajukan kebutuhan SDM perusahaan Anda, kami akan segera datang membantu...

Saturday, March 14, 2015

Super Gelo, Pengalaman Sekolah di Tanah Aborigin

Telah terbit buku terbaru kami berjudul "SUPER GELO" Catatan Pengalaman Bersekolah di Tanah Aborigin. Buku setebal 95 halaman ini ditulis dengan gaya anak muda yang lincah mengalir dan enak dibaca. Penulisnya Haikal Adlan menuangkan pengalamannya yang unik dan menarik selama 3 tahun bersekolah di Darwin Middle School Australia. Buku ini sangat layak dibaca sebagai bekal untuk anak/remaja yang berminat dan akan sekolah di luar negeri, termasuk juga penting dibaca oleh orangtuanya. Selamat menikmati...

Buku dapat dipesan di :
APM Publishing (PT. Actual Potensia Mandiri)
Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai No.7A, Pondok Kopi, Jakarta Timur 13460
Telp/Fax: (021) 86602971, 86615241.
HP/SMS: 081356704018.
Email: actual@actualindonesia.com
Harga: Rp.35.000/buku
Ongkos kirim: Klik www.jne.co.id
Transfer ke rekening:
- Bank Mandiri, Norek: 1250007762719, a.n. PT. Actual Potensia Mandiri
- Bank BCA, Norek: 3422855855, a.n. Adil Kurnia
Kirim bukti transfer via SMS/Email

Resensi Buku :
Haikal Adlan, sering dipanggil “Haikal” atau “Adlan” oleh teman-temannya di Indonesia tapi teman-temannya di Darwin (Australia) memanggilnya “Heycool”. Lahir di Jakarta, 27 Desember 1998 dari kedua orangtua yang berprofesi sebagai psikolog. Ia begitu mencintai sekolahnya Al-Azhar Sentra Primer Jaktim, karena memang dari Play Group, TK sampai SD memang ia menjalaninya di sana. Di Al-Azhar pula ia dibentuk menjadi seorang siswa yang memiliki karakter pribadi yang jujur, taat beribadah, berprestasi di bidang akademik dan musik. Bekal tersebut ternyata tidak sia-sia, karena ketika orangtuanya mendapat tugas belajar kemudian membawanya ke Darwin (Australia), ternyata Haikal berhasil menunjukkan prestasi yang cukup membanggakan. Selama bersekolah di Darwin Middle School (DMS) ia berhasil meraih Platinum Good Standing Award (Year 9), Platinum Good Standing Award (Year 7), Bronze Good Standing Award (Year 8), Academic Excellence Award in Music (Year 9), Academic Excellence Award in several subjects (Year 7 & Year 8), Consistent Effort Award in several subjects (Year 7 & Year 8). Selain itu, ia menjadi personil DMS Band sebagai pemegang keyboard dan menjadi anggota DMS Debating Team yang berkompetisi dengan SMP-SMP lainnya di Darwin. Bukan hanya di sekolah formal saja, tapi ia juga aktif di kegiatan Masjid Islamic Centre Darwin dan menjadi siswa Madrasah yang berada di bawah naungan Islamic Society of Darwin (ISoD). Di sana pada tahun 2011, ia meraih prestasi Academic Excellence Award dan 1st Winner Essay Competition. Sementara sumbahsih langsungnya pada Negara adalah ia menjadi salah satu penabuh gamelan pada pagelaran “Pesona Indonesia” – pestanya orang-orang Indonesia di Darwin. Ia mengaku minat menulisnya muncul ketika masih di Jakarta ia banyak membaca buku-buku dari penulis idolanya, Raditya Dika. Sesampainya di Darwin, ia pun selalu minta dibawakan buku-buku Radtya Dika. Bukan hanya buku-bukunya, semua yang berhubungan dengan Raditya Dika yang ada di internet selalu dibuka dan ditonton berulang-ulang. Oleh karena itu jangan kaget kalau gaya bercerita dalam tulisan-tulisannya mengadopsi gaya bertutur Raditya Dika. Karya-karya tulisannya banyak dituangkan di blog pribadinya dan di kanal Kompasiana (untuk yang berbahasa Inggris). Buku ini merupakan buku pertamanya, ia mencoba menceritakan dan men-sharing pengalaman-pengalamannya selama bersekolah di Darwin Middle School (DMS) yang menurutnya banyak berbeda atau aneh dibandingkan suasana bersekolah pada umumnya di Indonesia. Untuk itu atas usulan teman-temannya ia setuju memberi judul buku ini dengan “Super Gelo.”


Dari Rote Ke Iowa - Karya Gerson Poyk


Sampul buku ke-4 yang diterbitkan oleh PT. Actual Potensia Mandiri (APM Publishing) berjudul "Dari Rote ke Iowa", karya Gerson Poyk. Bagi yang berminat silakan menghubungi: actual_indonesia@yahoo.com atau actual@actualindonesia.com

Olahraga Itu Seni - Karya Ayid Suyitno


Buku ketiga yang diterbitkan PT. Actual Potensia Mandiri (APM Publishing) berjudul "Olahraga Itu Seni", karya Ayid Suyitno. Bagi yang berminat silakan menghubungi kami di: actual_indonesia@yahoo.com atau actual@actualindonesia.com

Duniaku, Antologi Cerpen Karya Fanny J. Poyk


Ini cover buku kedua yang diterbitkan oleh PT. Actual Potensia Mandiri (APM Publishing), berjudul "Duniaku" - Antologi Cerpen oleh Fanny J. Poyk. Bagi yang berminat silakan menghubungi langsung ke alamat email kami di: actual_indonesia@yahoo.com atau actual@actualindonesia.com

Pangkeng, Kumpulan Cerita Pendek Betawi


PT. Actual Potensia Mandiri mendadak jadi Penerbit yang diberi nama APM Publishing. Buku pertamanya berjudul "Pangkeng", Kumpulan Cerita Pendek Betawi, karya Hairul Haq. Semoga laris dan berlanjut dengan buku-buku berikutnya, aamiin...

Psikotes Karyawan PPIA (LIA) di Cirebon


Pemeriksaan Pesikologis Karyawan PPIA (LIA) tanggal 17 November di Cirebon.

Sunday, June 1, 2014

Bingkisan Dari Osaka Jepang

Akhir Maret 2014 lalu, Ibu Deasyanti bersama rekannya Ibu Ratna Dyah Suryaratri dari Charles Darwin University serta beberapa kolega psikolog lainnya dari berbagai universitas di Indonesia (Untar, Unika Atmajaya, USU, Unair, Unhas) mengikuti konferensi internasional di bidang psikologi di Osaka Jepang. Berikut ini bingkisan foto-foto mereka di sana:
Foto
: Ratna Dyah Suryaratri

Bersama teman-teman psikolog dari Indonesia

Presentasi Ibu Deasyanti
Berpose di depan gedung konferensi
Di tengah bunga Sakura yang indah
Bertemu Teman Adik Bu Ratri
Acara Tour di Osaka
Ngerasain naik Shinkansen ke Tokyo
Di tengah kota Tokyo

Foto: Ratna Dyah Suryaratri

Wednesday, February 5, 2014

Belajar Mengantri vs Belajar Matematika




Seorang guru di Australia pernah berkata, “Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.

Sewaktu ditanya, “Mengapa kok bisa begitu? Kerena yang terjadi di negara kami adalah justru sebaliknya”.

Berikut inilah jawabannya:

1.    Karena kita hanya perlu melatih anak selama tiga bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga dibalik proses mengantri.

2.    Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika, kecuali fungsi TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian anak mereka menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis, dan sebagainya.

3.    Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi dibidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara, SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan ETIKA MORAL dan Pelajaran Berharga dari mengantri disepanjang hidup mereka kelak.

Ketika ditanya kembali, “Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI?”
Jawabannya, “Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya, antara lain:

1.    Anak belajar manajemen waktu....
Jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2.    Anak belajar bersabar...
Menunggu gilirannya tiba terutama jika ia berada di antrian paling belakang.

3.    Anak belajar menghormati hak orang lain…
Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.

4.    Anak belajar berdisiplin...
Dan tidak menyerobot hak orang lain.

5.    Anak belajar kreatif...
Untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6.    Anak bisa belajar bersosialisasi...
Menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7.    Anak belajar tabah dan sabar...
Menjalani proses dalam mencapai tujuannya.


Dengan membiasakan MENGANTRI, semoga anak-anak kita memiliki ETIKA MORAL yang berguna buat dirinya dan memperbaiki bangsanya kelak.


Sumber: Anonim

Thursday, November 14, 2013

PT. Dunggio Drilling



VISSION

PT. Dunggio Drilling determines to be the Symbol of Excellence Drilling Contractor in Regional 

MISSION

Provide Quality and Efficient Drilling Service with Competitive price, integrate with good modified drilling technology machine and also value health & safety in all we do.



CORE VALUE


Address:
Jalan Industri Selatan 6 Blok GG 9A, Jababeka II Industrial Estate, South Cikarang, West Java 17550, Indonesia

 
Phone:
+62 21 89841343

Website: 
http://www.dunggiodrilling.com

Monday, October 7, 2013

Ms Deasyanti Adil - Runner-up 3MT Competition Charles Darwin University 2013

Enews Issue 9 - 7 October 2013, Charles Darwin University

PRAWNS A HIT AT THESIS COMPETITION

By Louise Errington


A postgraduate researcher investigating the lifecycles of a little-studied freshwater prawn species has won the Northern Territory Three Minute Thesis competition.

The Three Minute Thesis challenges PhD and Masters by Research students to consolidate their ideas and research discoveries in a compelling oration of just three minutes, which they present to a non-specialist audience.

Charles Darwin University PhD candidate Peter Novak of the Research Institute for the Environment and Livelihoods took out first place for the presentation of his research project, which studies the ecology of Cherabin in the Daly River.

Mr Novak said little was known about the ecological role and life history of the North Australian freshwater prawn, including whether they migrated, and where and when they bred.

“Through this research we now know Cherabin migrate in their millions from the estuary to the river, and by doing so, are likely to provide vital nutrients to northern rivers,” Mr Novak said.

“Developments that impede the migratory behaviour of Cherabin will not only cause massive declines in populations of these freshwater prawns, but also could have significant impacts at the ecosystem scale.”

Mr Novak was awarded $1500 prize-money, as well as the honour of representing the NT at the Trans-Tasman competition at the University of Western Sydney’s Parramatta campus on 18 October 2013, where he will compete for a share in $8000 in research grants.

PhD candidate with the Faculty of Law, Education, Business and Arts Deasyanti Adil was runner-up with the delivery of her thesis, entitled “A Happy School: is it just a dream?” which investigates the levels of happiness experienced by school children in Jakarta.

Menzies School of Health Research postgraduate student Evan McRobb won the People’s Choice Award for his presentation, entitled “Meliodosis: Piecing together the puzzle”.

Ms Adil and Mr McRobb both won $500 in prize-money.

This year’s competition was judged by former Senator Trish Crossin, Associate Professor Steve Shanahan and Emeritus Professor Charles Webb.





Thursday, September 5, 2013

Strategi Belajar di Australia: Jangan Takut Salah



Foto: www.radioaustralia.net.au
Di situs Study in Australia, situs online yang memberi informasi tentang pendidikan di Australia, disebutkan 10 alasan mengapa memilih melanjutkan studi di Australia. Salah satunya adalah sistem universitasnya yang berada di peringkat 8 di dunia, di depan Inggris,Jerman, Jepang, dan  Belanda.

Tidak hanya itu, Australia juga merupakan negara tujuan paling populer ketiga untuk mahasiswa internasional. Bagus Nugroho, Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) di Melbourne, sudah tinggal dan berkuliah di Australia selama 10 tahun, dan saat ini menduduki posisi sebagai mahasiswa program doktoral dalam bidang Mechanical Engineering di University of Melbourne.

Ditanya tentang sistem pendidikan di Australia, Bagus membandingan dirinya dengan teman-temannya di Indonesia pada tahun pertama kuliah. Dia mengatakan, di Indonesia banyak mata kuliah yang tidak umum  seperti PPKN, bahasa dan agama, yang tidak diajarkan di Australia. Bagus juga menambahkan bahwa di tugas kuliah di Australia menuntut mahasiswa untuk banyak bekerja sama dengan sesama mahasiswa lain, dan didorongnya unsur praktek dan kreativitas yang merupakan keuntungan, tapi juga bisa menjadi tantangan bagi yang tidak terbiasa.

“Banyak  adik-adik kelas saya, dan murid-murid saya yang gak berani ngomong. Takut salah jadinya ga berani ngomong ke tutornya”

Hal ini yang menurut Bagus menjadi satu PR  yang harus dipersiapkan pelajar Indonesia sebelum melanjutkan studi di Australia. Menurutnya, sifat sangat pemalu dan tidak berani bertanya dan berpendapat akan menjadi bumerang untuk mereka yang ingin studi di luar negeri.

“Jangan bawa kebiasaan dari Indonesia...harus lebih aktif..berani memberikan opini. Salah gak masalah. Kekurangan kita itu takut salah. Gak mau ngomong karena takut salah, padahal meskipun kalau salah tutornya gak masalah sama sekali”

Sedangkan Steven, mahasiswa Indonesia yang sudah pernah tinggal dan bekerja di Singapura dan kini telah mengalami satu tahun kuliah di Australia, mengatakan budaya pendidikan di Australia memiliki suasana informal.

“Saya merasa Singapura dari segi pendidikan bagus, tapi ada perbedaan di mana di Singapura itu lebih ke top-down..di Australia, lebih interaktif antara dosen dan mahasiswanya.”

“Dari segi hubungan dengan dosen, kita bisa langsung kapan saja datang mengetuk ke ruangan dosen untuk berkonsultasi. Mereka tidak terlalu formal, kita tidak perlu menggunakan embel-embel titel,” katanya.

Untuk mendapat informasi mengenai kuliah di Australia, pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Australia, bisa mengunjungi situs http://www.studyinaustralia.gov.au/

Sumber:  www.radioaustralia.net.au (21 Juni 2013)

Mahasiswa Australia Makin Miskin



Foto: www.radioaustralia.net.au
Riset terbaru menunjukan dua pertiga mahasiswa Australia hidup di bawah garis kemiskinan dan kesulitan keuangan semakin meningkat.

Riset ini mendata lebih dari 12.000 responden mahasiswa  program sarjana dan pascasarjana di universitas-universitas di Australia.

21 persen responden mengaku memiliki pendapatan kurang dari $10,000, dan sebagian besar  yakni sekitar 40.3 persen berpendapatan $10,000 dan $19,000.

Sedangkan pendapatan tahunan rata-rata adalah $18.634 untuk mahasiswa program studi sarjana.
Laporan ini juga menemukan kalau 1 dari 5 mahasiswa kerap tidak makan, angka ini meningkat dari temuan tahun 2006 lalu yang hanya 1 dari 8 mahasiswa yang tidak makan.

Riset ini juga menemukan setengah dari mahasiswa yang disurvey mengaku mendapat dukungan keuangan dari keluarganya untuk bisa terus melanjutkan studi.

Sementara itu dua pertiga mahasiswa sarjana mengaku khawatir dengan situsai keuangan mereka. Kesulitan keuangan ini lebih besar dialami mahasiswa pribumi dibandingkan mahasiswa berlatar belakang sosial ekonomi rendah.

"Laporan ini jelas menunjukan kalau kesulitan keuangan dikalangan pelajar mahasiswa di Australia meningkat,” Kata Kepala Universitas Australia Belinda Robinson dalam pernyataannya.

"Dampak temuan ini terhadap tingkat berhenti kuliah atau DO maupun tingkat pendaftaran di universitas masih belum diketahui, namun yang pasti masalah ini tetap mendesak untuk dicermati." katanya.

Kepala Badan Pelayanan Sosial Australia (ACOSS), Cassandra Goldie, mengatakan pembayaran tunjangan anak-anak muda dari pemerintah saat ini tidak mencukupi lagi.

"Salah satu alasan utama terkait tunjangan bagi pemuda yang banyak diandalkan mahasiswa saat ini adalah besarannya hanya $29 per hari,” kata Dr Goldie.

"Seperti halnya pembayaran tunjangan bagi pengangguran,  besaran tunjangan itu sudah lebih dari dua dekade tidak mengalami peningkatan. Jadi jelas saja tunjangan itu sudah tidak cukup lagi,” tegasnya.
"Kita mendesak agar pemerintah menaikan tunjangan untuk mahasiswa ini.” ucap Goldie.

Sistem rusak

Dr. Goldie mengatakan sistem pendidikan di Australia dirancang untuk mahasiswa yang tinggal di rumah dan dibiayai oleh orang tua atau penjaminnya. Dan ini tidak mencerminkan kondisi kebanyakan mahasiswa atau pelajar di Australia saat ini.

"Jika dua pertiga dari mahasiswa hidup dibawah garis kemiskinan, maka bisa dipastikan sistem pendidikanya tidak benar,” katanya.

"Kita perlu sistem pendidikan yang dewasa yang memungkinkan mahasiswa bisa mendapat pendidikan yang lebih baik dan tidak perlu hidup miskin untuk menjalani pendidikan  seperti sekarang ini.”

Serikat Mahasiswa sebelumnya mendesak agar usia seseorang dibolehkan tinggal sendiri direndahkan dari 22 tahun menjadi 18 tahun untuk meningkatkan jumlah orang yang bisa mendapatkan dukungan pendanaan. Tapi Goldie  mengatakan desakan itu bukan perbaikan cepat untuk mengatasi tingginya tingkat kemiskinan.

"Pemerintah banyak berbicara soal bagaimana Australia bisa  memiliki sistem pendidikan kelas dunia, yang artinya harus juga melindungi hak pelajar untuk bisa melewati sistem pendidikan  tersebut,” katanya.

ACOSS mengatakan ketersediaan tempat tinggal yang terjangkau merupakan alasan lain yang mempengaruhi kemiskinan dikalangan pelajar.

Menurut Goldie anak-anak muda perlu hidup dalam kondisi stabil dan nyaman agar bisa menyelesaikan pendidikannya. Tapi saat ini kebanyakan mahasiswa hidup di rumah tinggal di bawah standar yang sulit untuk tidur nyenyak di malam hari dan belajar dengan baik.

Sumber:  www.radioaustralia.net.au (15 Juli 2013)